• Content Creation

Wingmen UK

Waktu Saya Bantu Organisasi Kesehatan Mental Pria di Inggris dari Jarak Ribuan Kilometer

Project ini jadi salah satu portofolio content creation dan video editing remote yang paling berkesan buat saya. Banyak yang kira kerja remote buat organisasi di Inggris itu cuma soal beda zona waktu. Tapi buat saya, tantangan sebenarnya ada di tempat lain. Waktu Wingmen Volunteers CIC dari Leeds percaya konten mereka ke saya, saya tahu ini bukan project biasa.

Kenapa? Karena ini bukan brand yang lagi jualan produk. Ini organisasi nirlaba yang ngurus hal paling sensitif, yaitu kesehatan mental pria di UK. Jadi tiap konten yang saya buat harus terasa hangat, aman, dan nggak menggurui.

Di halaman ini saya mau cerita bukan cuma soal apa yang saya kerjakan. Tapi gimana cara saya berpikir di balik tiap keputusannya. Karena buat saya, nilai dari kolaborasi ini bukan di nama kliennya, tapi di cara komunikasi yang benar-benar nyampe ke orang.

Pendekatan: Tiga Pilar, Tiga Cara Bercerita

Wingmen itu unik. Mereka jalan dengan tiga pilar yang saling menopang dalam satu ekosistem. Jadi sebelum produksi, saya selalu mulai dari satu pertanyaan yang sama. Pesan apa yang harus sampai, dan ke siapa?

Pilar pertama adalah inti sosialnya, berstatus resmi sebagai Community Interest Company. Di sini ada saluran telepon anonim, semacam “Wingman” buat pria yang lagi di titik krisis. Konten di pilar ini saya buat lembut dan empatik. Tujuannya satu, biar orang berani buka suara tanpa merasa dihakimi.

Pilar kedua bergerak di teknologi. Mesin operasional mereka didukung penuh sama Switch Networks, penyedia IT dan telekomunikasi yang jaga infrastruktur panggilan tetap aman 24 jam. Buat pilar ini, saya geser tone-nya jadi lebih kredibel dan rapi, karena audiensnya beda.

Pilar ketiga soal edukasi profesional. Ini hasil kerja bareng Virtual College buat sertifikasi para relawan. Di sini saya main di nada profesional tapi tetap relatable, supaya pelatihan nggak terasa kaku dan jauh.

Tiga pilar yang beda, tapi semuanya berangkat dari logika komunikasi yang sama.

Eksekusi: Dari Konten Sosial Media ke Video Promosi

Nah, di eksekusi inilah teori ketemu kenyataan. Karena saya kerja remote, semua koordinasi jalan lewat panggilan dan brief tertulis. Jadi saya harus ekstra jelas dari awal, biar nggak ada salah paham yang nahan produksi.

Project ini saya kerjakan selama 6 bulan penuh buat ketiga pilar sekaligus. Dalam periode itu, saya menyelesaikan 24 video promosi, terbagi rata 8 video di tiap pilar. Di sisi sosial media, saya produksi 132 konten, dari reels, carousel, sampai post statis.

Untuk sosial media, saya bikin Konten Sosial Media untuk Organisasi Nirlaba dan Social Enterprise yang nyatuin tiga pilar dalam satu suara yang konsisten. Ini susah, karena pesannya beda-beda di tiap pilar. Tapi audiensnya saling beririsan, jadi tone-nya nggak boleh loncat-loncat.

Konkretnya, saya selalu mulai dari breakdown pesan per pilar sebelum produksi. Saya pahami dulu inti yang ingin saya sampaikan, baru saya terjemahkan ke pendekatan visual. Mana yang perlu pelan dan personal, mana yang perlu tegas dan informatif.

Terus untuk video promosi, saya pegang dari konsep sampai editing akhir. Saya pastikan tiap Video Promosi untuk Social Enterprise dan Lembaga Edukasi punya alur cerita yang jelas, bukan sekadar tempelan klip. Buat organisasi yang ngomongin kesehatan mental, satu frame dengan tone yang salah bisa bikin pesannya meleset jauh.

Hasilnya pun saya ukur, bukan cuma diraba. Selama 6 bulan, konten yang tayang menembus 214.600 total tayangan video dengan jangkauan 386.000 akun. Tapi yang paling saya banggakan bukan angka itu. Konten ini dibagikan ulang 5.630 kali dan mendorong 2.140 klik menuju halaman helpline dan pelatihan. Buat isu kayak gini, satu klik ke helpline jauh lebih berarti daripada sekadar like.

Selain itu, engagement rate rata-rata di angka 6,4 persen, dan akun ketiga pilar nambah 3.870 follower baru. Buat saya, angka itu bukan sekadar statistik. Itu bukti kalau pendekatan content creation dan video editing remote yang empatik tetap bisa kerja secara terukur.

Tantangan Sebenarnya Bukan di Zona Waktu

Banyak yang kira kerja remote itu kerjanya santai. Tapi justru di situlah semua tekanan berkumpul. Tantangan terbesarnya bukan soal jam yang beda, tapi soal menjaga maksud tetap utuh waktu pindah dari satu negara ke negara lain.

Tantangan lainnya jelas soal isu yang saya angkat. Saya harus bikin konten soal topik berat tapi tetap terasa ringan dan ngajak. Orang nggak boleh merasa dikasihani. Yang saya mau, mereka merasa ditemani. Garis tipis itu yang paling sering saya jaga di tiap take dan tiap potongan editing.

Yang Saya Bawa dari Kolaborasi Ini

Pelajaran terbesarnya simpel. Kerja lintas negara itu bukan soal alat atau zona waktu. Kuncinya ada di seberapa dalam kita paham misi klien sebelum produksi mulai.

Project ini juga ngajarin saya kalau konten yang baik bukan yang paling ramai, tapi yang paling nyampe ke orang yang tepat. Apalagi waktu yang dibahas adalah nyawa dan kesehatan mental orang lain.

Semua pengalaman ini akhirnya berkumpul jadi portofolio content creation dan video editing remote yang saya bangun pelan-pelan. Ini bukan sekadar daftar nama klien, tapi bukti cara kerja yang konsisten antarproject, bahkan saat kliennya ada di benua yang beda.

Tertarik Berkolaborasi atau Punya Project Serupa?

Kalau kalian dari organisasi nirlaba, startup teknologi, atau lembaga edukasi yang butuh konten dengan arah yang jelas, jangan ragu buat reach out. Saya senang banget kalau bisa bantu nerjemahin misi yang kompleks jadi konten yang dekat sama orang.

Saya bawa pengalaman content creation, video editing, dan kebiasaan kerja remote yang rapi ke tiap kolaborasi yang saya masuki.

→ Hubungi saya langsung atau lihat karya lainnya di portofolio ini.


Karya yang berkesan tidak berhenti di ide, tapi tumbuh dari proses yang punya arah. – Didrika Ruvida